RUANG SATU PETAK
7.41 Ruang satu petak
Lanjutkan jurnal mu yang tidak jelas ini, jalani hidup yang begitu abu-abu ini, mengalir seperti biasanya.
Banyak yang terjadi berapa hari, bulan belakangan ini.
Jumat, 5 April Habis kontrak rantau panjang 3 tahun di kota orang berakhir hari itu juga. Pulanglah pemuda itu ke kampung halamannya.
Benar kata Henry Toreau, manusia pergi ke belahan dunia lain dan mati di kampung halamannya, kira kira seperti itu.
Sejauh apapun pergi akan pulang, aku pikir aku tidak akan kembali lagi ke kota orang mencari apa yang di butuhkan untuk hidup kedepan.
Warung kecil itu mulai berjalan lagi bertujuan untuk menopang keperluan kita satu keluarga. Yah, usaha dimulai lagi mungkin hasilnya tidak seberapa besar dari perusahaan kemarin, tapi bersyukurlah karena tiga manusia itu bisa bertahan dengan adanya warung ini.
Aku kira sudah berakhir kisah pemuda rantau itu, ternyata tidak alhamdulillah bersyukur lagi secepat ini dapat ganti, kembali ke kota orang dan mengenal banyak manusia lain dengan masing-masing kepribadiannya.
Rabu, 15 Mei mulai lagi bekerja di kota yang berbeda begitu juga suasana kerjanya. Ternyata bukan aku saja, semua manusia sedang mempersiapkan masa depannya, jadi mari lanjutkan.
Seperti kemarin malam aku bertemu dengan wanita kuat dengan background kehidupannya, bercerita tentang hidupnya yang ternyata lebih berat dari apa yang aku jalani sekarang, lantas apa yang membuat mu banyak mengeluh padahal diluar sana banyak manusia dengan kisah yang lebih berat dari kisah hidupmu itu.
Semalam aku pulang pukul 23.30 dari tempat yang dingin, diatas bangunan kost yang terdapat cukup ruang untuk bercerita.
Kita saling bercerita satu sama lain, mungkin aku lebih ke pendengar waktu itu dibandingkan bercerita, ya mau bagaimana pun memang hidupnya lah yang lebih berwarna, Senang mengenalmu.
Pagi ini aku sedikit membaca buku Fihi Ma Fihi Jalaluddin Rumi sembari menunggu rice cocker berbunyi tanda nasi sudah matang di temani lagu Billie Ellish dan di lanjutkan mengetik jurnal yang tidak jelas ini.
Purwakarta, 7 Juli 2024
Comments
Post a Comment