RUANG SATU PETAK
Semua kelam tak lagi terlintas, hanya saja kadang aku kalah dengan gelap sunyi yang membebani kepala. Berat jika di rasa, ingin bercerita tapi tak tahu apa yang akan diceritakan.
Tubuh tergeletak, mata menatap atap-atap ruang satu petak. Tidak ada siapa-siapa di dalam sini, aku sendiri berteman sepi, Semua manusia sibuk dengan dirinya sendiri, mana sempat mendengarkan keluh kesahku ini.
Tapi ini sudah menjadi hal biasa, kenapa aku sibuk memikirkan harus bercerita kesiapa, pikirkan saja sendiri, kesendirian membuat ku tenang walaupun kadang juga merasa kesepian. Mungkin kesepian itu adalah hal yang harus kau bayar agar mendapatkan ketenangan.
Rasanya baru kemarin aku masih tertawa lepas bergerak bebas, kenapa semua tiba-tiba menjadi seserius ini. Aku khawatir, apa bisa mengejar usia mereka yang sudah terlalu tua?. Yah semoga saja, aku hanya ingin sebelum mereka pergi aku sedang berada di fase terbaikku sendiri. Bukan seperti kemarin, yang ada hanya air mata orang tua melihat anaknya jauh dari apa yang mereka inginkan. Aku sudah tidak ingin melihat mereka bersedih di sisa hidupnya sekarang, melihat betapa egoisnya aku kemarin rasanya aku sudah terlalu banyak kesalahan, Ya allah permudahkan lah jalan hamba mu ini.
Mereka sudah terlalu tua, jadi bertarunglah sehancur-hancurnya, pulanglah dengan senyuman bukan dengan kabar akan kegagalan. Jika kau ingat dulu mati-matian keluar dari lingkaran kelam itu, lantas mengapa kau ingin masuk lagi kedalamnya, sudahlah semua ada masanya, mereka dulu mungkin belum mengalaminya dan tak usah dijelaskan dulu kau seperti apa, kembalilah kau datang kesini bukan untuk itu.
Persiapkan masa depanmu dari sekarang, banyak dari mereka yang tak sempat menyiapkan karena lalai dengan kesenangan. Sudah terlalu lama tuk senang saatnya mengusahakan, mari usahakan impian-impianmu itu.
Comments
Post a Comment