KOTA
Metropolitan.
Aku yang berumur 15 tahun berasal dari desa datang ke kota, melihat wajah ibu kota sendiri untuk pertama kalinya. Mulai dari bahasa dan budaya yang sudah berbeda daripada di kampung, di kota ini aku melihat manusia yang berjalan cepat, terburu, tak tahu apa yang mereka kejar.
Aku memandangi manusia-manusia itu dan bertanya "apa yang sedang mereka kejar? " (Kataku dalam hati). Gedung-gedung menjulang tinggi, manusianya berpakaian rapi, dan aku hanya bisa terdiam bingung melihatnya. Bocah kecil yang berada di bangku kelas 3 Sekolah menengah pertama, melihat ibukota yang begitu megah rasanya terlalu cepat dia melihat dunia luar, belum waktunya menurutku untuk dia menelaah apa arti kehidupan.
Mereka sibuk dengan dirinya sendiri, mengejar apa yang mereka inginkan, sampai lupa waktu kapan harus jeda beristirahat, aktivitasnya sangat cepat, dari pagi sampai pagi lagi ada saja kegiatan yang mereka lakukan. Jakarta seakan tidak pernah tertidur. Ramai, riuh sekali, lebih tenang kampungku.
Angka kriminalisasi tinggi, aku tak tau apa penyebabnya dulu, aku baru saja melihat dunia luar waktu itu. Mereka seperti tidak ada batasan, bebas, seakan hidup tak beraturan.
Sebenarnya tak mau lagi aku datang ke kota besar, bagaimanapun tempat ternyaman tetap saja rumahku. Tapi hidup harus dipertaruhkan, siapa lagi jika bukan aku?, aku harapan terakhir mereka.
18 tahun 1 bulan, aku kembali.
Aku datangi lagi tempat ini, ibarat sebuah buku, ternyata aku masih melihat halaman pertamanya saja. Masih banyak lagi yang belum aku pahami sampai sekarang.
Aku tiba disini bulan April 2021, ternyata sudah 3 tahun yang lalu saat pertama kali aku datang ke tempat ini. Waktu berjalan begitu cepat. aku sekarang adalah seorang perantau yang datang dari desa dengan keinginan mencari uang untuk mencukupi kehidupan yang aku tinggalkan di kampung. Aku datang dengan tekad agar bisa merubah ekonomi keluarga ku saat itu.
Halaman demi halaman aku baca tentang kota ini, dan sekarang terjawab sudah tentang apa yang jadi pertanyaan ku selama ini. Rasa ingin tauku semakin besar, terus mencari jawaban dari setiap pertanyaan. Dikota, manusia membeli imajinasinya dengan uang. Drugs, sex, pergaulan bebas, sering kali aku jumpai disini, di gang-gang sempit di balik megahnya ibu kota, beberapa orang mencari ketenangan dengan obat-obatan, seperti layaknya Philadelphia Amerika, aku melihat nya sendiri sekarang, tak jarang aku juga menemui barang-barang tersebut disekitarku.
Aku masuk lebih dalam lagi sekarang, pernah suatu waktu aku menjadi kurirnya, menghantarkan barang kesetiap sudut ibu kota, "Ya Tuhan jangan sekarang. " (Gumamku). Bagaimanapun aku tak mau jika kisah rantau ku berakhir juga hari itu.
Menjelang pagi para wanita berjajar menawarkan diri, murah sekali harga diri di sini, semua bisa dibeli. Uang, uang, uang, itulah yang mereka cari, bagaimanapun caranya, sekeras itu jakarta.
Anak-anak disuruh bekerja sedari kecil, membantu ekonomi keluarganya. Tempat bermainnya adalah jalanan raya yang berbahaya, apa yang ada di pikiran orang tua mereka, tapi itulah yang terjadi dibalik mewah nya kota metropolitan. Semua yang ditayangkan di televisi hanya baiknya saja, ternyata dalamnya masih tersimpan banyak misteri yang belum aku ketahui. Pantas kenapa setiap orang tua (waras) menjaga anaknya dengan begitu berhati-hati, ternyata ini semua yang mereka takutkan.
Pergaulan bebas.
Tak ada space antara lelaki dan perempuan, bahkan banyak anak gadis rusak di perantauan, simulasi rumah tangga dengan hidup berdua didalam kost, melakukan apa saja layaknya pasutri yang tinggal bersama. Ah anjing, apa lagi ini, dikota romansa sudah mati, dari banyak nya status FWB, HTS, Situationship, dan apalah itu, sehingga sulit bagi mereka untuk menjalin komitmen. Bayangkan betapa goyahnya anak muda sekarang, mereka di anggap keren dari berapa banyaknya perempuan yang pernah tidur dengannya.
Comments
Post a Comment