PINDAH
Ruang satu petak yang cuma ada satu bantal di atas tempat tidur hanya bertahan enam bulan dari awal aku berpindah tempat. Setelahnya aku berpindah lagi ke tempat yang lebih luas, terdapat 2 kamar mandi, 2 tempat tidur, ruang tamu, dapur, dan ruang tengah berserta teras didepannya. Benar, bisa disebut rumah.
Tapi bukan rumah ini yang aku inginkan saat ini, tetapi yang di dalamnya sudah tersimpan cerita dari aku lahir sampai akhirnya memutuskan pergi meninggalkannya. Seseorang pernah berkata bahwa saat pertama kali kamu meninggalkan rumah untuk merantau saat itu juga kamu terakhir kali berada dirumah, meskipun pulang rasanya tak akan sama lagi.
Memang benar, yang kurasakan sekarang juga begitu, entah kenapa rantau yang tadinya membuatku jenuh sekarang aku malah menjadi terlalu nyaman disini, aneh. Rindu hilir mudik tak berkesudahan tapi kenapa hati enggan untuk pulang.
Ah aku tau, mungkin semenjak kalimat itu terucap aku jadi malas untuk kembali pulang, "Kapan nikah, mumpung kita masih ada". Kalimat itu seakan menghantui aku setiap saat, melihat teman sudah pada menikah, mengenalkan calon pada orang tuanya, bahkan tidak sedikit yang sudah mempunyai anak.
Yang ada dipikiranku hanya kalian berdua untuk sekarang, berusaha sebisa mungkin bagaimana caranya kita agar bisa bertahan. Coba perihal menikah akan aku pikirkan sambil berjalan, tapi intinya aku akan menikah jika aku sudah siap. Dan aku berharap ketika sudah siap nanti semoga kalian masih ada di sampingku.
Comments
Post a Comment